Kasih Ibunda Sepanjang Masa

saya bersyukur karena pada sampai saat ini, saya masih mempunyai opung. walaupun hanya tinggal satu, yaitu maminya mami. karena saya adalah seorang batak, maka saya memanggil mamimya mami dengan sebutan opung boru. tapi sejak kecil saya memanggilnya opung bou.

saya tidak tau pasti berapa umurnya, mungkin sekitar 82 tahun. opung bou memiliki 4 orang anak. anak pertamanya adalah perempuan, saya memanggilnya mama tua. anak kedua adalah laki-laki, nama saya samarkan untuk menjaga privacy. sebut saja tulang A. anak ketiga juga laki-laki, dan namanya pun saya samarkan untuk kepentingan yang sama. sebut saja tulang B. dan anak yang keempatnya adalah mami saya.


opung bou berdomisili di suatu perumahan kecil di daerah Tangerang. opung doli, suami opung bou telah meninggal sejak tahun 2002, tapi opung bou tidak tinggal sendiri. ada abangnya mami saya, si Tulang B tingal bersamanya sekalian merawat opung bou. entah mengapa, walaupun rumah itu kecil, saya selalu mendapatkan menantikan moment-moment saat berkumpul dengan keluarga besar dari mami. tidak sebesar yang orang-orang kira, hanya ada keluarga saya berjumlah 5 orang, keluarga mama tua saya 3 orang, keluarga tulang A 2 orang, tulang B dan opung bou.


sebelumnya opung bou tidak pernah mengidam penyakit serius. yang saya ketahui hanya penyakit umur tua yaitu pendengarannya kurang. dan kemudian adanya katarak pada mata kanan. tapi setelah itu, kataraknya pun sembuh dengan menjalani operasi setelah beberapa waktu. setelah itu, entah mulai sejak kapan, opung bou sering mengeluh gatal-gatal pada badannya. setelah sering kontrol dan berkonsultasi dengan dokter, entah berapa lama (yang saya sadari dalan itungan 5-6 bulan) akhirnya opung bou tidak pernah lagi mengeluhkan gatal-gatalnya itu.


semuanya berjalan baik-baik saja setelah itu, cukup lama; saya ingat-ingat. sampai akhirnya saya mendengarkan opung bou jatuh saat dia sedang belanja di pasar. saya tidak begitu tau kabarnya setelah itu, karena saya sudah mulai ngekos di daerah depok untuk menunjang perkuliahan saya. saya bukannya tidak peduli, tapi memang pada dasarnya saya lebih dekat dengan opung doli. tapi bukan berarti saya tidak sayang opung bou saya. sesekali saya bertanya keadaan opung bou sama mami. dan sampai sekitar bulan Oktober pertengahan, mami memberitahukan saya bahwa opung bou dibawa ke Guru Singa untuk mendapatkan perawatan di sana (fyi, guru singa itu seperti tempat pijatan refleksi. kurang tau juga sih, saya memang belum pernah ke sana. tapi waktu saya SMA, teman saya pernah cerita waktu dia keseleo parah sehabis main futsal, dia pergi ke Guru Singa dan kemudian sembuh, walaupun kata dia, itu sakit banget)


setelah sepulang berada di sana, opung bou merasa tidak betah dan meminta pulang. Akhirnya setelah melalui pertimbangan lewat telfon, anak-anak opung bou memutuskan untuk opung bou tinggal di rumah mama tua saya. di rumah mama tua saya ada 4 orang, yaitu, mama tua, bapak tua, dan kedua kakak sepupu saya; yang satu kakak S adalah anak kandung mama tua saya, sedang yang satu lagi adalah kakak R adalah anak kandung dari tulang A. kakak R ada di rumah itu karena kuliahnya di UNJ, sedangkan rumah dia ada di Merak.


inilah awal mulanya. karena kurang gerak dan selalu berbaring tempat tidur, akhirnya jadilah badan si opung kaku dan sakit semua. hampir semua kegiatan, ia lakukan di tempat tidur dan berbaring. dari mulai makan, menghabiskan waktu seharian atau bahkan buang air kecil sampai besar pun ia lakukan di tempat tidur. maka dari itu akhirnya mama tua memutuskan untuk memakaikan opung bou popok. saya dan keluarga rajin berkunjung ke rumah mama tua tiap minggu. saya sering kasihan melihat opung bou yang sering dimarahi mami karena tidak mau makan, melepas popoknya atau bahkan tidak mau belajar untuk menggerakkan anggota tubuhnya, tapi lama kelamaan saya sadar kalau opung bou memang bandel. dia susah sekali makan, dia sering melepas popoknya secara tiba-tiba, sehingga dia buang air kecil dan besar tidak di alasi apapun, dan dia pun sering malas untuk disuruh latihan menggerakkan anggora tubuhnya, bahkan untuk duduk saja, banyak sekali alasannya, ya ini lah ya itu lah. intinya malas. dan sepertinya juga tidak ada tanggapan baik dari mama tua saya. saya pikir, sebagai anak tertua, harusnya dialah yang pertama kali harus bertanggung jawab atas opung bou. bukan berarti menyerahkan semua tanggung jawab ada di tangannya, tetapi paling tidak harusnya dia yang paling punya keinginan untuk lebih bertanggung jawab atas ibunya sendiri. tapi saya tidak melihat itu di mama tua saya. malahan yang sering merawat opung bou adalah kakak sepupu saya, kakak R. kakak sepupu saya yang S sama tidak pedulinya seperti mamanya.


setelah itu akhirnya, tulang A menelfon mami untuk memindahkan opung bou di rumah kami. dan jadilah opung ada di rumah kami sekarang. di rumah saya hanya ada 5 kamar. kamar mami papi, kamar babang, kamar saya dan si kecil, kamar tamu serta kamar pembantu. sejak kedatangan opung bou serta tulang B, saya dan si kecil tidur secara nomaden, kadang di kamar mami papi, kadang di kamar babang. kamar saya dan si kecil dipakai untuk tidur opung. sedangkan kamar tamu dipakai oleh tulang B. dan inilah hari ke-9 semenjak kedatangan opung bou dan tulang B serta malam ke-8 saya tidur secara nomaden.


Apakah saya keberatan?

ya, kadang saya merasa keberatan, karena dengan itu, saya tidak bisa tidur di tempat tidur saya sendiri. saya juga harus bangun pagi kalau saya tidur di kamar mami papi saya.. karena mereka membiasakan untuk mengunci pintu kamar saat mereka pergi bekerja atau keluar rumah. jadilah saya bangun pagi. sounds simple? it depends. maybe for you, yaa, it's really simple. but not for me. saya adalah seorang insomnia akut. saya baru bisa tidur sekitar pukul 2 atau 3 pagi, atau bahkan ketika matahari muncul. dan saya rasa alasan saya untuk merasa sedikit keberatanpun cukup.

tapi melihat kemajuan opung bou yang sangat pesat dalam 9 hari ini, rasa keberatan itu hilang seiring kemauan opung bou yang ingin sehat lagi. dia mau belajar jalan dibantu tulang B tiap pagi dan sore. nafsu makan yang lumayan besar dan tidak terus-terusan berbaring :)


selama 9 hari ini, saya melihat perjuangan mami saya dalam merawat ibunya sendiri. menyuapinya 2 kali sehari (sarapan dan makan malam. makan siang disuapi tulang B) tanpa mengeluh. mami juga memandikan opung dengan air hangat 2 kali sehari, pagi sebelum mami berangkat bekerja dan sore setelah mami pulang bekerja, meski saya tahu, pastilah mami lelah setelah pulang kerja. mami menyuapi buah kesukaan opung bou, yaitu pisang, perlahan dan penuh kesabaran. tak hentinya mami meminta kesembuhan opung bou di dalam doa malamnya. for sure, she loves mom. YES SHE DOES!! :')


di sini saya merasa beruntung mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat besar, realita hidup dari jaman ke jaman, lebih tepatnya proses yang luar biasa adanya. saya memang tidak pernah melihat bagaimana opung bou memberi kasih sayang yang begitu besar kepada mami ketika mami masih kecil. tapi saya yakin, kasih sayang opung bou kepada mami sangat besar, sehingga mami pun dapat memberikan kasih sayang yang besar pula baik kepada papi, babang, saya, si kecil serta kepada ibundanya sendiri.


Ingat lagu ini?


kasih ibu kepada beta

tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi,
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia

entah mengapa, hanya lagu ini yang terngiang di dalam pikiran saya, setelah saya sadari ada proses yang luar biasa mendatangi kehidupan saya. setiap kata yang terdengar sangat simple itu, seketika membuat saya menitikkan ait mata. saya pun tidak tahu, apakah ini tangisan sedih, terharu, senang atau apapun maksud dari sebuah tangisan. yang saya sadari sekarang, kasih ibunda memang tak pernah habis baik untuk anaknya ataupun untuk orangtuanya sendiri, terlebih lagi untuk ibunda tercintanya. YA, kasih ibunda sepanjang masa-ibunda saya.



regards,

Cindy

No comments:

Post a Comment